KATAKAN LAGI
Kiran memandang
Darwin dengan tatapan lelah. Ia sudah lelah dengan segala sifat Darwin yang
malas itu. Awalnya dia berpikir kalau sifat itu pasti akan bisa berubah seiring
waktu. Kiran akan berusaha untuk membuat Darwin meninggalkan sifatnya itu. Tapi
ternyata Kiran salah. Tidak semudah itu mengubah sifat orang yang sudah bawaan
lahir. Ia salah. Salah menganggap kalau Darwin akhirnya dapat berubah. Dan ia
lelah dengan kesalahannya itu. Ia lelah dengan tanggapan Darwin yang
malas-malasan padanya. Darwin tidak pernah menganggapnya benar-benar ada.
Kiran tersenyum getir memandang Darwin yang lagi-lagi
mengantuk. Padahal Darwin sedang bersamanya. Apakah ia tak bisa mengontrol
sedikit kemalasannya itu jika di depannya? Apa Darwin selalu bosan jika
bersamanya? Kiran tidak bisa membayangkan itu. Rasanya sakit. Rasanya lelah. Ia
ingin marah namun tak tahu apa yang harus dimarahinya. Soal apa yang harus
dibahasnya, Kiran selalu bingung jika bersama Darwin. Ia tak bisa mengerti apa
yang dipikirkan Darwin. Apa yang salah dari Kiran?
Kalau saja Darwin
mau memberitahu apa yang salah dengan Kiran, maka Kiran pasti akan berusaha
membenahinya. Kiran selalu cemburu, cemburu pada pasangan-pasangan lainnya yang
dipenuhi canda dan tawa. Itu semua terlalu kontras jika dibandingkan dengan apa
yang terjadi pada Kiran dan Darwin. Hubungan mereka terlalu datar. Terlalu
tenang sampai-sampai Kiran merasa ini bukanlah suatu hubungan spesial. Apa Darwin
tak pernah berpikir kalau Kiran adalah pacarnya? Dari luar mereka memang
terlihat rukun dan selalu bahagia. Tapi itu semua hanya sandiwara Kiran agar
mereka terlihat seperti itu. Dan Kiran lelah untuk terus bersandiwara. Ia
terlalu lelah pada berbagai hal dalam hubungan ini.
Kiran ingin mengakhirinya namun ia tak mampu. Ia
bukannya tak mampu kalau harus putus. Tapi tak mampu untuk membayangkan apa
respon dari Darwin jika dia meminta putus. Darwin pastilah dengan santai bilang
“Terserah”. Atau bilang “Ya sudah. Nggak usah bilang juga nggak apa-apa,
merepotkan!” dengan ekspresi malasnya. Kiran tak mampu membayangkan itu. Dia
tak mampu untuk melihat apa reaksi Darwin. Kiran hanya ingin Darwin menunjukkan
rasa sayangnya pada Kiran. Tidak harus dengan pelukan, kecupan, gandengan atau
apalah itu. Kiran bukan mengharapkan itu. Kiran hanya ingin Darwin bilang kalau
ia mencintainya. Hanya itu. Karena selama ini Darwin tak pernah bilang apa pun
yang berarti cinta padanya. Selama ini selalu dirinya yang bilang seperti itu
dan hanya ditanggapi senyuman ala kadarnya oleh Darwin. Padahal Kiran
mengungkapkan rasa cintanya dengan wajah panas. Dengan rasa malu dan deg-degan
menunggu respon dari Darwin. Tapi… haha tak ada yang didapatnya kecuali senyum
ala kadarnya itu. Senyum yang selalu dia berikan pada siapa pun. Tak ada
bedanya senyum yang diberikannya pada Kiran atau yang lainnya. Kiran hanya
ingin sedikit diperlakukan istimewa. Sedikit saja. Tapi sedikit pun itu tak
pernah terkabul. Kenapa? Kenapa yang selalu diharapkannya tak pernah terkabul?
Apa kesalahan yang diperbuatnya sampai dia harus menanggung ini?
Memang kelihatannya ini masalah sepele. Tapi bagi Kiran,
masalah ini seperti masalah yang menutupi masalah di seluruh hidupnya. Tak ada masalah
yang lebih membuatnya ingin mati seperti masalah ini. Kadang kala Kiran ingin
mencoba bunuh diri. Siapa tahu dengan begitu Darwin akan memberinya sedikit
perhatian. Tapi sekali lagi. Ia takut. Ia takut kalau reaksi Darwin selalu
melenceng dari apa yang diharapkannya. Ia takut kalau begitu ia sudah bunuh
diri dan ternyata Darwin tak memberi reaksi apa pun yang
berarti kecuali
datang ke Rumah Sakit dengan wajah malas. Kiran ingin sekali tertawa getir di
hadapan Darwin. Ia ingin sekali memaki-maki Darwin dan meluapkan semua emosi
yang melanda hatinya. Tapi ia tak kuasa. Kiran terlalu lemah jika berhubungan
dengan Darwin. Kesimpulannya, Ia LELAH. Ia ingin lenyap dari dunia ini.
Mungkin itu saja impiannya saat ini. Ia sudah terlalu LELAH untuk
bermimpi akan dipedulikan oleh Darwin. Oh, itu jauh sekali di awang-awang.
Huh..
Tanpa terasa oleh Kiran,
air mata itu sudah membentuk sungai kecil di sudut matanya. Kiran tidak tahu
kalau Darwin menyadari itu. Darwin yang sedang mengantuk langsung menghilang kantuknya
entah kemana begitu melihat air mata mengucur deras dari mata indah Kiran. Darwin
segera maju menghadap Kiran. “KIRAN?? ADA APA?? Apa ada yang sakit??” Tanya Darwin
dengan wajah selain malas. Darwin bertanya dengan wajah cemas. Kiran tersenyum
aneh. Tidak mungkin Darwin mencemaskannya. Pasti yang tadi hanya fatamorgana
yang dilihat Kiran saking kalutnya ia. Begitu lucu. Begitu ironis khayalan yang
diinginkan Kiran. Tapi sekali lagi Darwin bertanya dengan wajah cemas
kepadanya, “KIRAN?? Kau tidak apa-apa? Apa aku telah melakukan kesalahan?”
tanyanya kali ini lengkap dengan bonus mengguncang-guncang bahu Kiran. Kiran
terbelalak. Ternyata apa yang baru saja dilihatnya bukan suatu fatamorgana,
ilusi atau khayalannya. Itu fakta dan realita apa yang sedang terjadi saat ini.
Kiran merasa dirinya goyah. Ia menangis makin kencang sambil memegang tangan Darwin
yang sekarang sudah mengusap air matanya.
“Aku…
Aku hanya merasa kau tidak mencintaiku, Darwin. Aku… Aku merasa kalau aku tidak
pernah berarti bagimu. Aku… Aku merasa kalau aku bukan apa-apa untukmu.
Aku…huhuhu,” Kiran sudah tak bisa berkata-kata lagi. Isak tangisnya makin
kencang. Darwin sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Kiran. Ia tersenyum
lembut pada Kiran lalu merangkulnya perlahan, “Aku tidak pernah seperti
itu…Aku… Ehm, aku selalu mencintaimu, Kiran…,” kata Darwin dengan intonasi
makin perlahan. Itu membuat Kiran tak bisa mendengar apa yang diucapkannya. “Apa? Apa yang barusan kamu katakan Darwin?
Maaf, aku tak terlalu mendengarnya. Bisa kamu katakan sekali lagi?” Ucap Kiran
sambil menunduk merasa bersalah atas pendengarannya yang dianggapnya kurang
peka. Darwin menghela nafas perlahan lalu wajahnya berubah usil, “Hmm...gimana
ya?” ucapnya memancing Kiran. Kiran segera melepaskan pelukan Darwin. “Hng…
apaaaa?? Kasih tau!” kata Kiran sambil sedikit berusaha menyamarkan
kegembiraannya dari Darwin. Darwin tersenyum nakal sambil bangkit berdiri,
“Kalau kamu bisa tangkap aku, baru aku mau mengatakannya lagi! Haha!” katanya
sambil segera berlari. Kiran ingin marah namun
akhirnya ia malah
tertawa. Sudah lama ia ingin seperti ini. Hubungan yang sedikit berwarna.
Maka tanpa
ragu-ragu Kiran berlari mengejar Darwin yang sudah jauh mendahuluinya. Kiran terus
berlari dengan tawanya yang berderai. Ia bahagia. Sungguh bahagia. Dengan
semangat Kiran terus mengejar Darwin hingga berputar tiga kali di tempat yang
sama. Kiran mulai kelelahan namun tetap senang. “Darwin! Udahan ah! Atau
enggak, ku tendang sampe mental ke Samudra Pasifik nih?” kata Kiran sambil memasang
kuda-kuda. Ia hanya berpura-pura. Darwin langsung berhenti saat itu juga. “A-…Apaa?” ucapnya agak ketakutan. Ia
lalu akhirnya menyerah dan mendekat ke arah Kiran. Kiran tertawa, akhirnya ia
menang. “Ayo, katakan lagi apa yang baru saja kau katakan!” katanya kembali
pada sifatnya yang asli. Ceria dan tentu saja, galak. Darwin menghela nafas sok
terpaksa. Ia menggumam pelan sebentar lalu akhirnya mengedikkan bahu. “Oke, aku
bilang. Tapi dengarkan baik-baik. Ku tidak akan mengatakannya lagi dalam kurun
waktu sepuluh tahun!” serunya. Kiran hanya mendelik lalu mengangguk.
Darwin menarik
nafas dalam-dalam lagi, “Aku mencintaimu, Kiran! Hanya saja… yah, kau taulah
kalau sifatku memang begitu. Malas dan selalu saja bilang segala sesuatu
merepotkan. Tapi sebenarnya aku bingung harus memperlakukanmu bagaimana. Hng…
aku memang tidak berguna ya?” Darwin berkata cepat sekali. Kiran melongo lalu
tertawa senang. Darwin hanya memberikan pandangan tanya-kenapa. Kiran
menggeleng masih dengan sisa tawanya, “Enggak. Kamu bukannya enggak berguna,
tapi memang aku yang sepertinya belum bisa mengerti kamu.” Ucapnya sambil
tersenyum manis, “Karena itulah, buat aku supaya bisa mengerti kamu. Bicarakan
apa saja yang ingin kamu bicarakan. Aku tersiksa dengan segala ketenangan dan
kemalasanmu itu!” lanjutnya sedikit bercanda. Darwin tersenyum mendengar
penuturan Kiran, “Yah… tapi kau juga harus bisa mengerti sifatku yang tidak
bisa kurubah. Kupikir hanya kau yang bisa mengubahnya.” Kata Darwin perlahan
sambil kembali merangkul Kiran dalam pelukannya. Sekali lagi Kiran menangis.
Namun kali ini tangisan bahagia.
Ternyata selama ini ia hanya salah paham. Salah paham
yang berujung pada prasangka buruk yang melingkupi pemikiran otaknya. Kali ini Kiran
berjanji dengan kesungguhan hatinya. Dia akan mencoba selalu mengerti Darwin
dan mengubah sifat malasnya itu.
Ia hanya harus bersabar dalam semua itu. Iya kan?
-TAMAT-
Best regards,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar