Senin, 10 September 2012

CERPEN "Katakan Lagi"


  KATAKAN LAGI

Kiran memandang Darwin dengan tatapan lelah. Ia sudah lelah dengan segala sifat Darwin yang malas itu. Awalnya dia berpikir kalau sifat itu pasti akan bisa berubah seiring waktu. Kiran akan berusaha untuk membuat Darwin meninggalkan sifatnya itu. Tapi ternyata Kiran salah. Tidak semudah itu mengubah sifat orang yang sudah bawaan lahir. Ia salah. Salah menganggap kalau Darwin akhirnya dapat berubah. Dan ia lelah dengan kesalahannya itu. Ia lelah dengan tanggapan Darwin yang malas-malasan padanya. Darwin tidak pernah menganggapnya benar-benar ada.
Kiran tersenyum getir memandang Darwin yang lagi-lagi mengantuk. Padahal Darwin sedang bersamanya. Apakah ia tak bisa mengontrol sedikit kemalasannya itu jika di depannya? Apa Darwin selalu bosan jika bersamanya? Kiran tidak bisa membayangkan itu. Rasanya sakit. Rasanya lelah. Ia ingin marah namun tak tahu apa yang harus dimarahinya. Soal apa yang harus dibahasnya, Kiran selalu bingung jika bersama Darwin. Ia tak bisa mengerti apa yang dipikirkan Darwin. Apa yang salah dari Kiran?
Kalau saja Darwin mau memberitahu apa yang salah dengan Kiran, maka Kiran pasti akan berusaha membenahinya. Kiran selalu cemburu, cemburu pada pasangan-pasangan lainnya yang dipenuhi canda dan tawa. Itu semua terlalu kontras jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Kiran dan Darwin. Hubungan mereka terlalu datar. Terlalu tenang sampai-sampai Kiran merasa ini bukanlah suatu hubungan spesial. Apa Darwin tak pernah berpikir kalau Kiran adalah pacarnya? Dari luar mereka memang terlihat rukun dan selalu bahagia. Tapi itu semua hanya sandiwara Kiran agar mereka terlihat seperti itu. Dan Kiran lelah untuk terus bersandiwara. Ia terlalu lelah pada berbagai hal dalam hubungan ini.
Kiran ingin mengakhirinya namun ia tak mampu. Ia bukannya tak mampu kalau harus putus. Tapi tak mampu untuk membayangkan apa respon dari Darwin jika dia meminta putus. Darwin pastilah dengan santai bilang “Terserah”. Atau bilang “Ya sudah. Nggak usah bilang juga nggak apa-apa, merepotkan!” dengan ekspresi malasnya. Kiran tak mampu membayangkan itu. Dia tak mampu untuk melihat apa reaksi Darwin. Kiran hanya ingin Darwin menunjukkan rasa sayangnya pada Kiran. Tidak harus dengan pelukan, kecupan, gandengan atau apalah itu. Kiran bukan mengharapkan itu. Kiran hanya ingin Darwin bilang kalau ia mencintainya. Hanya itu. Karena selama ini Darwin tak pernah bilang apa pun yang berarti cinta padanya. Selama ini selalu dirinya yang bilang seperti itu dan hanya ditanggapi senyuman ala kadarnya oleh Darwin. Padahal Kiran mengungkapkan rasa cintanya dengan wajah panas. Dengan rasa malu dan deg-degan menunggu respon dari Darwin. Tapi… haha tak ada yang didapatnya kecuali senyum ala kadarnya itu. Senyum yang selalu dia berikan pada siapa pun. Tak ada bedanya senyum yang diberikannya pada Kiran atau yang lainnya. Kiran hanya ingin sedikit diperlakukan istimewa. Sedikit saja. Tapi sedikit pun itu tak pernah terkabul. Kenapa? Kenapa yang selalu diharapkannya tak pernah terkabul? Apa kesalahan yang diperbuatnya sampai dia harus menanggung ini?
Memang kelihatannya ini masalah sepele. Tapi bagi Kiran, masalah ini seperti masalah yang menutupi masalah di seluruh hidupnya. Tak ada masalah yang lebih membuatnya ingin mati seperti masalah ini. Kadang kala Kiran ingin mencoba bunuh diri. Siapa tahu dengan begitu Darwin akan memberinya sedikit perhatian. Tapi sekali lagi. Ia takut. Ia takut kalau reaksi Darwin selalu melenceng dari apa yang diharapkannya. Ia takut kalau begitu ia sudah bunuh diri dan ternyata Darwin tak memberi reaksi apa pun yang berarti kecuali datang ke Rumah Sakit dengan wajah malas. Kiran ingin sekali tertawa getir di hadapan Darwin. Ia ingin sekali memaki-maki Darwin dan meluapkan semua emosi yang melanda hatinya. Tapi ia tak kuasa. Kiran terlalu lemah jika berhubungan dengan Darwin. Kesimpulannya, Ia LELAH. Ia ingin lenyap dari dunia ini. Mungkin itu saja impiannya saat ini. Ia sudah terlalu LELAH untuk bermimpi akan dipedulikan oleh Darwin. Oh, itu jauh sekali di awang-awang. Huh..
Tanpa terasa oleh Kiran, air mata itu sudah membentuk sungai kecil di sudut matanya. Kiran tidak tahu kalau Darwin menyadari itu. Darwin yang sedang mengantuk langsung menghilang kantuknya entah kemana begitu melihat air mata mengucur deras dari mata indah Kiran. Darwin segera maju menghadap Kiran. “KIRAN?? ADA APA?? Apa ada yang sakit??” Tanya Darwin dengan wajah selain malas. Darwin bertanya dengan wajah cemas. Kiran tersenyum aneh. Tidak mungkin Darwin mencemaskannya. Pasti yang tadi hanya fatamorgana yang dilihat Kiran saking kalutnya ia. Begitu lucu. Begitu ironis khayalan yang diinginkan Kiran. Tapi sekali lagi Darwin bertanya dengan wajah cemas kepadanya, “KIRAN?? Kau tidak apa-apa? Apa aku telah melakukan kesalahan?” tanyanya kali ini lengkap dengan bonus mengguncang-guncang bahu Kiran. Kiran terbelalak. Ternyata apa yang baru saja dilihatnya bukan suatu fatamorgana, ilusi atau khayalannya. Itu fakta dan realita apa yang sedang terjadi saat ini. Kiran merasa dirinya goyah. Ia menangis makin kencang sambil memegang tangan Darwin yang sekarang sudah mengusap air matanya.
“Aku… Aku hanya merasa kau tidak mencintaiku, Darwin. Aku… Aku merasa kalau aku tidak pernah berarti bagimu. Aku… Aku merasa kalau aku bukan apa-apa untukmu. Aku…huhuhu,” Kiran sudah tak bisa berkata-kata lagi. Isak tangisnya makin kencang. Darwin sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Kiran. Ia tersenyum lembut pada Kiran lalu merangkulnya perlahan, “Aku tidak pernah seperti itu…Aku… Ehm, aku selalu mencintaimu, Kiran…,” kata Darwin dengan intonasi makin perlahan. Itu membuat Kiran tak bisa mendengar apa yang diucapkannya. “Apa? Apa yang barusan kamu katakan Darwin? Maaf, aku tak terlalu mendengarnya. Bisa kamu katakan sekali lagi?” Ucap Kiran sambil menunduk merasa bersalah atas pendengarannya yang dianggapnya kurang peka. Darwin menghela nafas perlahan lalu wajahnya berubah usil, “Hmm...gimana ya?” ucapnya memancing Kiran. Kiran segera melepaskan pelukan Darwin. “Hng… apaaaa?? Kasih tau!” kata Kiran sambil sedikit berusaha menyamarkan kegembiraannya dari Darwin. Darwin tersenyum nakal sambil bangkit berdiri, “Kalau kamu bisa tangkap aku, baru aku mau mengatakannya lagi! Haha!” katanya sambil segera berlari. Kiran ingin marah namun akhirnya ia malah tertawa. Sudah lama ia ingin seperti ini. Hubungan yang sedikit berwarna.
Maka tanpa ragu-ragu Kiran berlari mengejar Darwin yang sudah jauh mendahuluinya. Kiran terus berlari dengan tawanya yang berderai. Ia bahagia. Sungguh bahagia. Dengan semangat Kiran terus mengejar Darwin hingga berputar tiga kali di tempat yang sama. Kiran mulai kelelahan namun tetap senang. “Darwin! Udahan ah! Atau enggak, ku tendang sampe mental ke Samudra Pasifik nih?” kata Kiran sambil memasang kuda-kuda. Ia hanya berpura-pura. Darwin langsung berhenti saat itu juga. “A-…Apaa?” ucapnya agak ketakutan. Ia lalu akhirnya menyerah dan mendekat ke arah Kiran. Kiran tertawa, akhirnya ia menang. “Ayo, katakan lagi apa yang baru saja kau katakan!” katanya kembali pada sifatnya yang asli. Ceria dan tentu saja, galak. Darwin menghela nafas sok terpaksa. Ia menggumam pelan sebentar lalu akhirnya mengedikkan bahu. “Oke, aku bilang. Tapi dengarkan baik-baik. Ku tidak akan mengatakannya lagi dalam kurun waktu sepuluh tahun!” serunya. Kiran hanya mendelik lalu mengangguk.
Darwin menarik nafas dalam-dalam lagi, “Aku mencintaimu, Kiran! Hanya saja… yah, kau taulah kalau sifatku memang begitu. Malas dan selalu saja bilang segala sesuatu merepotkan. Tapi sebenarnya aku bingung harus memperlakukanmu bagaimana. Hng… aku memang tidak berguna ya?” Darwin berkata cepat sekali. Kiran melongo lalu tertawa senang. Darwin hanya memberikan pandangan tanya-kenapa. Kiran menggeleng masih dengan sisa tawanya, “Enggak. Kamu bukannya enggak berguna, tapi memang aku yang sepertinya belum bisa mengerti kamu.” Ucapnya sambil tersenyum manis, “Karena itulah, buat aku supaya bisa mengerti kamu. Bicarakan apa saja yang ingin kamu bicarakan. Aku tersiksa dengan segala ketenangan dan kemalasanmu itu!” lanjutnya sedikit bercanda. Darwin tersenyum mendengar penuturan Kiran, “Yah… tapi kau juga harus bisa mengerti sifatku yang tidak bisa kurubah. Kupikir hanya kau yang bisa mengubahnya.” Kata Darwin perlahan sambil kembali merangkul Kiran dalam pelukannya. Sekali lagi Kiran menangis. Namun kali ini tangisan bahagia.
Ternyata selama ini ia hanya salah paham. Salah paham yang berujung pada prasangka buruk yang melingkupi pemikiran otaknya. Kali ini Kiran berjanji dengan kesungguhan hatinya. Dia akan mencoba selalu mengerti Darwin dan mengubah sifat malasnya itu.
Ia hanya harus bersabar dalam semua itu. Iya kan?
-TAMAT-
Best regards,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar